Di Tengah Tekanan Politik, Trump Salahkan Perusahaan Minyak atas Harga BBM Tinggi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak melontarkan kritik kepada dua raksasa minyak negaranya sendiri, ExxonMobil dan Chevron. Menurut Trump, perusahaan-perusahaan tersebut meraup keuntungan yang terlalu besar dari gejolak pasar energi yang dipicu perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, sementara masyarakat Amerika masih harus membeli bensin dengan harga tinggi.

Sumber: CNBC
Pernyataan itu cukup mengejutkan karena selama ini Trump dikenal sebagai sosok yang sangat mendukung dunia usaha, termasuk industri minyak dan gas. Namun kali ini ia mengaku tidak senang melihat lonjakan laba perusahaan energi yang terjadi ketika jutaan warga Amerika justru terbebani biaya hidup yang semakin mahal.
"Chevron menghasilkan terlalu banyak uang. ExxonMobil juga terlalu banyak. Saya tidak suka itu."
Ia bahkan meminta perusahaan-perusahaan tersebut mengembalikan sebagian keuntungan kepada publik dengan menurunkan harga bahan bakar.
Kemarahan Trump muncul setelah Chevron membukukan laba kuartalan sekitar US$12,2 miliar, sementara ExxonMobil mencatat keuntungan mencapai US$14,5 miliar. Lonjakan tersebut terjadi setelah harga minyak dunia sempat melesat dari sekitar US$70 menjadi US$126 per barel akibat terganggunya pasokan energi selama konflik dengan Iran, sebelum akhirnya kembali turun ke kisaran US$85 per barel.
Masalahnya, penurunan harga minyak mentah belum sepenuhnya diikuti turunnya harga bensin di Amerika Serikat. Rata-rata harga bensin nasional masih berada di kisaran US$4,11 per galon, sehingga memicu keluhan masyarakat dan menjadi isu politik menjelang pemilu sela pada November mendatang. Kondisi ini membuat Trump berada di bawah tekanan untuk menunjukkan bahwa pemerintah selalu berupaya melindungi konsumen.
Trump juga telah meminta Departemen Kehakiman menyelidiki dugaan praktik penggelembungan harga (price gouging) di sektor energi. Meski demikian, belum ada rencana melarang ekspor minyak Amerika Serikat, sebuah langkah yang selama ini dianggap dapat membantu menekan harga domestik.
Artikel Terkait
Terlalu Mengandalkan Modal Asing, IMF Minta Indonesia Mulai Lepas dari “Duit Panas”
2 months ago
Bank Dunia Tunjuk Sri Mulyani Pimpin Pendanaan IDA22 bagi Negara Berpendapatan Rendah
2 months ago
EA Resmi Diambil Alih Arab Saudi, Salah Satu Akuisisi Terbesar di Industri Game
2 months ago