Memuat tanggal...
Logo
Hobi Olahraga Berat? Waspadai Rhabdomiolisis yang Bisa Merusak Ginjal
Lifestyle 16 July 2026, 20:00 WIB Shaddam Putra

Hobi Olahraga Berat? Waspadai Rhabdomiolisis yang Bisa Merusak Ginjal

Semangat berolahraga memang baik untuk kesehatan. Namun, ada batas di mana latihan yang terlalu berat justru bisa membahayakan tubuh. Para ilmuwan kini semakin memahami titik kritis saat proses pembentukan otot berubah menjadi kerusakan otot serius yang dikenal sebagai rhabdomiolisis atau sering disingkat rhabdo.

Sumber: Getty

Rhabdomiolisis terjadi ketika otot rangka mengalami kerusakan parah hingga melepaskan protein dan elektrolit ke dalam aliran darah. Salah satu zat yang dilepaskan adalah mioglobin, protein yang jika jumlahnya terlalu banyak dapat membebani ginjal dan memicu gagal ginjal. Dalam kasus yang berat, kondisi ini juga dapat mengganggu kerja jantung dan organ lainnya.

Meski terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan bahwa olahraga tetap aman dilakukan. Yang perlu diwaspadai adalah olahraga dengan intensitas sangat tinggi, terutama bagi orang yang baru kembali berlatih setelah lama berhenti atau langsung memaksakan diri tanpa adaptasi.

Menurut laporan National Geographic, kasus rhabdomiolisis akibat aktivitas fisik atau exertional rhabdomyolysis dilaporkan meningkat sejak 2020. Kondisi ini awalnya banyak ditemukan pada peserta pelatihan militer karena kombinasi latihan berat, suhu panas, dan waktu pemulihan yang minim. Kini, kasus serupa juga makin sering ditemukan pada masyarakat umum, terutama mereka yang mengikuti latihan intensitas tinggi seperti CrossFit, HYROX, tantangan kebugaran hingga kelas spinning.

Namun, bukan berarti jenis olahraga tersebut berbahaya. Risiko biasanya muncul ketika seseorang memaksakan tubuh melewati batas kemampuan, apalagi jika belum terbiasa dengan latihan tersebut. Sebenarnya, kerusakan otot dalam jumlah kecil merupakan bagian normal dari proses pembentukan otot. Setelah latihan, serat otot akan mengalami kerusakan ringan, lalu diperbaiki sehingga menjadi lebih kuat. Itulah sebabnya tubuh terasa pegal satu atau dua hari setelah olahraga, yang dikenal sebagai Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS).

Masalah muncul ketika kerusakan otot jauh lebih besar daripada kemampuan tubuh untuk memperbaikinya. Di sinilah rhabdomiolisis dapat terjadi. Para peneliti menjelaskan bahwa belum ada batas pasti yang bisa memprediksi kapan seseorang akan mengalaminya karena respons setiap individu berbeda-beda.

Gejala rhabdomiolisis juga tidak selalu mudah dikenali. Tiga tanda klasiknya adalah nyeri otot hebat, kelemahan otot, dan urine berwarna gelap menyerupai teh atau cola. Sayangnya, tidak semua penderita mengalami ketiga gejala tersebut sekaligus. Banyak orang juga mengira rasa sakit yang dialami hanyalah pegal biasa setelah olahraga, sehingga terlambat mencari pertolongan medis.

Sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko kondisi ini. Selain olahraga berat yang dilakukan secara mendadak, suhu panas, kurang istirahat, dehidrasi, baru sembuh dari infeksi virus, hingga penggunaan beberapa jenis obat seperti statin juga dapat berkontribusi. Menariknya, beberapa peneliti juga mulai mengkaji apakah konsumsi air yang berlebihan sebelum atau saat olahraga bisa ikut meningkatkan risiko pada kondisi tertentu, meski hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Para ahli menyarankan agar siapa pun yang ingin meningkatkan intensitas olahraga melakukannya secara bertahap. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap beban latihan. Istirahat yang cukup, menjaga hidrasi, serta mengenali sinyal tubuh menjadi langkah penting untuk mencegah cedera maupun rhabdomiolisis.

Jika setelah berolahraga muncul nyeri otot yang sangat berat, pembengkakan, tubuh terasa sangat lemah, atau urine berubah menjadi gelap, sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Penanganan dini, terutama melalui pemberian cairan infus dalam jumlah cukup, dapat membantu mencegah kerusakan ginjal yang lebih serius

Bagikan Artikel: