OPEC+ Sepakat Naikkan Produksi, Harga Minyak Dunia Langsung Melemah
Harga minyak dunia turun pada perdagangan Senin (6/7/2026) setelah aliansi produsen minyak OPEC+ menyepakati kenaikan target produksi mulai Agustus 2026. Keputusan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa pasokan minyak global akan semakin longgar, meski permintaan masih dibayangi ketidakpastian.

Sumber: Reuters
Minyak mentah Brent turun ke kisaran US$71,7 per barel, sementara minyak mentah acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) melemah ke sekitar US$68,3 per barel. Penurunan ini terjadi setelah pasar mencerna keputusan OPEC+ yang kembali meningkatkan kuota produksi untuk bulan kelima secara berturut-turut.
Dalam pertemuan yang digelar akhir pekan lalu, tujuh anggota utama OPEC+ menyetujui kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai Agustus. Besaran tersebut sama dengan peningkatan yang telah diterapkan pada Juni dan Juli.
Sejak April 2026, kelompok tersebut telah menambah target produksi hampir 800.000 barel per hari sebagai bagian dari strategi mengembalikan pemangkasan produksi sukarela yang diberlakukan sebelumnya.
Langkah OPEC+ dilakukan ketika ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia mulai pulih setelah gangguan panjang akibat konflik Iran dan penutupan sementara Selat Hormuz. Menurut data pelacakan kapal, ekspor minyak dari Arab Saudi, Kuwait, dan Irak meningkat selama Juni hingga menembus sekitar 10 juta barel per hari, naik lebih dari 3 juta barel per hari dibandingkan Mei. Meski demikian, volume tersebut masih sekitar 40 persen di bawah tingkat sebelum konflik terjadi. Pemulihan arus ekspor ini menjadi salah satu faktor yang membuat pasar memperkirakan pasokan global akan semakin melimpah dalam beberapa bulan mendatang.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap permintaan minyak masih membebani sentimen pasar.
Lembaga keuangan ANZ memangkas proyeksi permintaan minyak global tahun 2026 dan kini memperkirakan konsumsi akan mengalami kontraksi sekitar 1,5 juta barel per hari. Penurunan tersebut dipicu lemahnya aktivitas ekonomi global pada kuartal kedua, meski mereka memperkirakan permintaan dapat membaik menjelang akhir tahun.
Kondisi di China juga menjadi perhatian. Sebagai importir minyak terbesar di dunia, impor minyak China dilaporkan turun ke level terendah dalam satu dekade pada Juni. Sejumlah analis menilai pembelian dapat kembali meningkat apabila harga minyak terus melemah sehingga memberikan insentif bagi kilang-kilang independen untuk meningkatkan impor.
Keputusan menaikkan produksi menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan anggota OPEC+ memenuhi target baru sekaligus apakah pasar mampu menyerap tambahan pasokan tersebut. Meskipun target produksi terus dinaikkan, realisasi produksi beberapa negara masih dipengaruhi gangguan logistik dan keamanan di Timur Tengah. Namun dengan semakin pulihnya pengiriman melalui Selat Hormuz, pelaku pasar memperkirakan produksi tambahan akan mulai benar-benar masuk ke pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Selain itu, perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, ADNOC, juga dilaporkan menjual sekitar 16 juta barel minyak mentah di pasar spot dengan diskon yang lebih besar yang turut menambah tekanan terhadap harga.
Turunnya harga minyak justru disambut positif oleh pasar saham global karena berpotensi menekan inflasi dan mengurangi biaya energi. Investor menilai harga energi yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi bank-bank sentral untuk mempertahankan atau bahkan melonggarkan kebijakan moneter apabila tekanan inflasi terus mereda. Reuters mencatat penurunan harga minyak membantu mengangkat sentimen di bursa saham Eropa dan kontrak berjangka saham Amerika Serikat pada awal pekan.
Meski demikian, prospek harga minyak dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah, pemulihan ekspor melalui Selat Hormuz, serta kondisi permintaan dari negara-negara konsumen utama seperti China dan Amerika Serikat. Jika permintaan tidak segera membaik sementara OPEC+ terus meningkatkan produksi, tekanan terhadap harga minyak diperkirakan masih akan berlanjut.
Artikel Terkait
Terlalu Mengandalkan Modal Asing, IMF Minta Indonesia Mulai Lepas dari “Duit Panas”
2 months ago
Bank Dunia Tunjuk Sri Mulyani Pimpin Pendanaan IDA22 bagi Negara Berpendapatan Rendah
2 months ago
EA Resmi Diambil Alih Arab Saudi, Salah Satu Akuisisi Terbesar di Industri Game
2 months ago