Memuat tanggal...
Logo
Tak Lagi Bergantung ke Luar Negeri? Indonesia Mulai Bangun Kemandirian Perawatan Alutsista
News 19 August 2026, 19:16 WIB Shaddam Putra

Tak Lagi Bergantung ke Luar Negeri? Indonesia Mulai Bangun Kemandirian Perawatan Alutsista

Indonesia mulai mendekati satu target penting di sektor pertahanan:, yakni tidak terus-menerus bergantung pada pihak luar untuk merawat alat utama sistem senjata (alutsista). Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyebut keberhasilan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF) melakukan perawatan berat pesawat C-130H Hercules milik TNI Angkatan Udara sebagai langkah menuju kemandirian tersebut. Pesawat Hercules C-130H A-1319 itu bukan sekadar menjalani servis rutin. GMF melakukan sejumlah pekerjaan besar, mulai dari penggantian center wing box, peningkatan sistem avionik, hingga program untuk memastikan kembali integritas struktur pesawat. Proses tersebut menjadi pertama kalinya GMF menangani modifikasi besar C-130H dalam skala seperti ini.

Menurut Sjafrie, capaian tersebut tidak lepas dari kerja sama transfer teknologi antara GMF dan Lockheed Martin, produsen Hercules asal Amerika Serikat. Pemerintah berharap kemampuan ini nantinya tidak berhenti di pesawat angkut saja. GMF dan PT Dirgantara Indonesia juga didorong agar mampu menangani perawatan berat pesawat tempur maupun pesawat intai.

Di sinilah kata “kemandirian” menjadi menarik untuk dicermati. Kemampuan merawat alutsista di dalam negeri memang penting, karena ketergantungan pada fasilitas luar negeri bisa membuat biaya, waktu perawatan, hingga kesiapan operasional ikut bergantung pada pihak lain. Namun, keberhasilan merawat satu jenis pesawat tentu belum otomatis berarti Indonesia sudah sepenuhnya mandiri dalam urusan alutsista. Apalagi, teknologi pertahanan memiliki tingkat kompleksitas yang berbeda-beda. Pesawat angkut seperti Hercules jelas berbeda dengan jet tempur yang memiliki sistem avionik, radar, mesin, persenjataan, dan berbagai teknologi sensitif lainnya. Jadi, capaian GMF sebaiknya dilihat sebagai fondasi, bukan garis akhir.

Pemerintah sendiri sedang menyiapkan fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) Hercules di Bandara Kertajati, Jawa Barat. Fasilitas tersebut ditargetkan menjadi pusat perawatan Hercules terbesar di Asia. Sjafrie berharap pengalaman GMF menangani C-130H dapat menjadi modal penting dalam pengembangan fasilitas tersebut. Kalau rencana ini benar-benar berjalan konsisten, dampaknya bisa lebih luas daripada sekadar urusan militer. Industri dalam negeri berpeluang mendapatkan transfer teknologi, meningkatkan keahlian tenaga kerja, sekaligus membangun rantai pasok industri pertahanan yang lebih kuat.

Tantangannya adalah memastikan program seperti ini tidak berhenti sebagai proyek kebanggaan sesaat. Kemandirian pertahanan membutuhkan investasi jangka panjang, sumber daya manusia yang mumpuni, teknologi yang terus diperbarui, serta konsistensi kebijakan. Jangan sampai Indonesia berhasil melakukan perawatan besar hari ini, tetapi beberapa tahun kemudian kembali bergantung pada pihak asing karena kemampuan tersebut tidak dikembangkan lebih jauh.

Bagikan Artikel: