Wabah Ebola di DR Congo Tembus 1.000 Kasus dalam Sebulan, WHO Keluarkan Peringatan Darurat
Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo (DR Congo) terus memburuk dan kini menjadi salah satu krisis kesehatan paling serius di Afrika pada 2026. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa penyebaran virus berlangsung sangat cepat, dengan jumlah kasus yang telah menembus angka 1.000 hanya dalam waktu sekitar satu bulan sejak wabah dikonfirmasi pada Mei lalu.

Sumber: UNICEF
Menurut data terbaru pemerintah DR Congo, jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi telah mencapai 1.048 kasus dengan 267 kematian. Angka tersebut menjadikan wabah kali ini sebagai wabah Ebola dengan pertumbuhan tercepat pada bulan pertama dalam sejarah Afrika.
Wabah saat ini disebabkan oleh virus Ebola spesies Bundibugyo, jenis yang relatif jarang ditemukan dan hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus yang telah disetujui secara luas. Kondisi ini membuat upaya pengendalian menjadi lebih sulit dibandingkan wabah Ebola sebelumnya yang dapat ditangani dengan vaksin tertentu.
WHO menyebut wabah terjadi di wilayah yang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik bersenjata, perpindahan penduduk, hingga keterbatasan fasilitas kesehatan. Situasi tersebut menghambat pelacakan kontak dan penanganan pasien secara cepat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan dalam wabah kali ini. Lembaga kemanusiaan melaporkan peningkatan kasus pada anak-anak, sementara UNICEF menyebut hampir 20 persen kasus terkonfirmasi berasal dari kelompok usia anak.
Beberapa kematian anak telah menarik perhatian dunia, termasuk meninggalnya bayi berusia enam bulan di Bunia, wilayah yang menjadi salah satu pusat penyebaran wabah. Kasus tersebut menambah daftar korban anak-anak di panti asuhan dan komunitas padat penduduk yang terdampak Ebola.
Selain di DR Congo, penyebaran virus juga telah melintasi perbatasan menuju Uganda. WHO mengonfirmasi bahwa wabah telah terdeteksi di kedua negara sejak Mei 2026. Uganda telah melaporkan sejumlah kasus dan korban jiwa, sehingga meningkatkan kekhawatiran mengenai penyebaran lintas negara di kawasan Afrika Timur.
Menghadapi situasi yang semakin serius, WHO bersama Africa CDC meluncurkan rencana tanggap darurat senilai sekitar 518 juta dolar AS untuk enam bulan ke depan. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat pelacakan kontak, pengawasan penyakit, kesiapsiagaan lintas batas, pengiriman logistik medis, serta edukasi masyarakat.
WHO menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengendalian wabah. Pengalaman dari wabah-wabah Ebola sebelumnya menunjukkan bahwa ketidakpercayaan terhadap petugas kesehatan dan penyebaran informasi yang salah dapat mempercepat penularan virus.
Karena kecepatan penyebaran dan tingginya risiko lintas negara, WHO sebelumnya telah menetapkan wabah Ebola yang melibatkan DR Congo dan Uganda sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC). Organisasi tersebut memperingatkan bahwa dunia tidak boleh mengabaikan perkembangan wabah ini mengingat potensi penyebarannya yang masih tinggi.
Sumber: WHO
Artikel Terkait
Eskalator Stasiun Duri Mendadak Bergerak Turun, 12 Penumpang Terluka Saat Pagi Hari Ini
1 week ago
Menteri HAM Desak Badan Gizi Nasional Beri Pemulihan Korban Keracunan MBG
1 month ago
Tak Lagi Bergantung ke Luar Negeri? Indonesia Mulai Bangun Kemandirian Perawatan Alutsista
1 month ago